Skip to main content

Sejarah Desa Banjarsari

D:\Data fera\DATA DIDOKUMEN\WEB DESA BANJARSARI\BANJAR.jpg

Dahulu Desa Banjarsari merupakan perdukuhan, yang ada hanya hutan belantara, sebenarnya ada rumah namun hanya beberapa saja dan itu sangat jauh jaraknya antara rumah satu ke rumah dua sehingga dahulu sangat rawan terhadap kemalingan, yang kemudian kedatangan empat orang bersaudara yang mengunjungi desa banjarsari, mereka merupakan orang pelarian dari majapahit yang  pada saat itu kerajaan majapahit sedang ada peperangan sehingga mereka melarikan diri dan bersembunyi di hutan belantara, empat bersaudar tersebut bernama bau gadung, Siti khoti‘anu, Dewi aisyah dan Eyang narwisah yang kemudian mereka membabad alas dimana mereka berkeinginan untuk membuat sebuah desa dan hingga akhirnya setelah itu hutannya di babad dan terbentuklah sebuah grumbul yang dinamakan dengan Ndesa, grumbul ndesa tersebut merupakan awal mulanya terbentuknya desa banjarsari. Setelah itu dari empat bersaudara bertengkar merebut kekuasaan desa banjarsari tersebut, dikarenakan  dari empat bersaudara tersebut semuanya sakti hingga akhirnya yang lebih tua mengalah yang bernama bau gadung karena menurut beliau daripada antar saudara nantinya terjadi pertumpahan darah maka beliau lebih memilih mengalah dan beliau membabad alas yang sekarang dinamakan grumbul manuksiung tentunya sangat jauh dari desa banjarsari, dari tiga bersaudara tersebut akhirnya eyang narwisah membabad alas yang kini dinamakan grumbul planjan.

Karena dari tiga bersaudara tersebut hanya bisa membabad alas dan tidak mengetahui tentang sistem pemerintahan desa itu seperti apa, hingga akhirnya mere ka mendatangkan seseorang dari luar desa banjarsari yaitu dari desa kalikidang kecamatan cilongok untuk mengampu sistem pemerintahan desa banjarsari, beliau merupakan carik pertama. Dan yang menjadi lurah pertama kali di desa banjarsari yaitu yuda citra besari dari daerah ciroyom. Jadi dulu tempat untuk mengatur tata pemerintahan desa banjarsari di rumah bapak darmo suwito yang sekaligus sebagai tempat tinggal dan sebagai balaidesa, namun rumah tersebut tidak sebagai balaidesa yang sebenarnya karena rumah tersebut sebagai tempat tinggal dan hanya sebagai tempat untuk saling bertukar pikiran/diskusi tentang tata pemerintahan desa banjarsari. Balaidesa banjarsari pertama kali berada di grumbul banjarsari tengah tepatnya di RT 04 RW 02 lebih tepatnya yang sekarang menjadi TK Pertiwi banjarsari dimana dahulu balaidesanya sangat khas dengan rumah jawa yaitu model joglo, namun sekarang sudah tidak ada lagi peninggalan dari balaidesa banjarsari karena sudah di bongkar dan di jadikan TK Pertiwi. hingga kemudian balaidesa banjarsari dipindah ke daerah karang joho RT 06 RW 1, mulai dari pemerintahan kepala desa darmo suwito yang merupakan putra pertama banjarsari yang menjadi kepala desa, dan tempat balaidesanya masih di grumbul karang joho sampai sekarang. Desa banjarsari berdiri pada masa kerajaan mataram sekitar tahun 1600-an. Untuk Luas desa banjarsari yaitu 3983 hektare terdiri dari 7 RW, 48 RT, dan 4 kadus.

Desa banjarsari sudah enam kali pergantian kepemimpinan diantaranya:

  1. Citra Besari

  2. Madraji

  3. Dharmo suwito

  4. Shoheh

  5. Toni Abidin

  6. Tarto

  7. Muhtarom

Dari semua mantan kepala desa banjarsari itu sangat pandai dan gigih dalam memimpin desa banjarsari tersebut, namun  sayangnya dari semua kepala desa itu tidak ada peninggalan sejarahnya.

Masjid tertua atau yang pertama kali ada di desa banjarsari yaitu masjid baitul muslimin sekitar tahun 1930-an. Dahulu bukan masjid tetapi masih mushola/langgar yang mana hanya memuat untuk beberapa orang saja. Tetapi sekarang sudah menjadi masjid dan sudah menjadi besar.

Sumber perekonomian desa banjarsari :

  1. Masih ada sebagian dari masyarakat yang mempertahankan warisan leluhur yaitu pengrajin sangkar burung

D:\Data fera\DATA DIDOKUMEN\WEB DESA BANJARSARI\New folder\bnjar 2.jpg D:\Data fera\DATA DIDOKUMEN\WEB DESA BANJARSARI\sangkar burung\s.jpg D:\Data fera\DATA DIDOKUMEN\WEB DESA BANJARSARI\sangkar burung\sangkar.jpg

Dahulu Masyarakat desa banjarsari senantiasa mempalajari warisan leluhur,yaitu pengrajin sangkar burung yang terbuat dari bambu, dicetuskan pertama kali oleh Bapak Tarwin dari grumbul planjan. Beliau merupakan pendatang dari grumbul kalisari cilongok yang awalnya beliau membuat sangkar burng tersebut lalu masyarakat sekitar melihat dan menirunya sehingga pertama kali ada kerajinan sangkar burung yaitu di desa banjarsari. Tidak hanya sangkar burung, tetapi ada yang membuat kerajinan lainya seperti tudung (sebuah topi yang sering digunakan para petani sawah) dan lain sebagainya. yang pasti bahan dasarnya adalah bambu. Dewasa ini,sangkar burung yang terbuat dari bambu itu justru memikat para pecinta burung rumahan. Mungkin karena harganya yang relatif murah dibandingkan sangkar burung yang terbuat dari besi. Banyak konsumen dari luar daerah yang setia mengambil hasil produsi tersebut dalam jumlah besar.

Hingga sampai sekarang pengrajin sangkar burung itu masih ada dan sebagai sumber perekonomian  masyarakat desa bajarsari, tetapi lebih banyak sumber penghasilan dari masyarakat desa bajarsari yaitu sebagai petani. Dahulu pengrajin sangkar burung dan caping menjadi sumber pendapatan bagi masyarakat desa bajarsari tetapi lambat laun menjadi merosot dikarenakan membutuhkan waktu yang lama dalam proses pembuatan sangkar burung dan caping tersebut serta hasil dari penjualan sangkar urung yang sangat murah menjadikan para pengrajin sangkar burung tersebut beralih profesi menjadi petani.

  1. Petani

C:\Users\USER\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\IMG20190328082438.jpg       C:\Users\USER\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\IMG20190328083152.jpgC:\Users\USER\AppData\Local\Microsoft\Windows\INetCache\Content.Word\IMG20190328082553.jpg 

Menjadi seorang petani merupakan pilihan dari para pengrajin sangkar burung dan caping, menurut bapak kasan yang merupakan salah seorang yang telah menjelajah berbagai macam pekerjaan yang ada di daerahnya, seperti menjadi pengrajin sangkar burung dan tudung, petani, menjadi pembuat gula kelapa sudah beliau kerjakan namun dari ketiga pekerjaan tersebut lebih memilih menjadi petani, menurut beliau “petani merupakan pekerjaan yang sangat saya senangi dan sangat saya banggakan kenapa? Karena menjadi petani itu kan mengolah sawah yang nantinya akan menghasilkan padi dan diolah kembali hingga menjadi makanan pokok bagi negara indonesia yaitu beras. Selain dapat memenuhi kebutuhan pribadi juga apabila masih sisa bisa di perjual belikan, di sawah tidak sendiri tapi saya memilik banyak teman yang sama-sama mengolah sawah. Setiap kali panen bisa mendapatkan untung dari Rp. 500.000 sampai Rp. 1.000.000. itu apabila di jadikan uang, tetapi biasanya saya untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Satu tahun saya panen bisa mencapai tiga kali, meskipun terkadang kena hama.” Jadi itulah mata pencaharian desa banjarsari yang masih sangat membanggakan.

  1. Pengrajin pembuatan Gula Kelapa

D:\KULIAH\smt 4\SPEI\gulakelapagulamerahcetak.jpg  D:\KULIAH\smt 4\SPEI\gula-semut-mbok-tani3.jpg

D:\KULIAH\smt 4\SPEI\1546264_1423492751307740_1157131184599541534_n.jpg

Desa Banjarsari merupakan desa yang sangat produktif dalam pembuatan Gula kelapa di mana tanahnya yang sangat subur serta banyaknya pohon kelapa disekitar rumah tempat tinggal maka masyarakatnyapun banyak yang berprofesi sebagai penderes  untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari, masyarakat desa banjarsari ada yang paginya bertani lalu sorenya dia menderes dan itu dilakukan secara terus menerus jadi sawahnya terkontrol dan usaha gula kelapanya pun tetap berjalan.

Comments

Popular posts from this blog