
Generasi berikutnya, Syekh Arsyad Al-Banjari, melengkapinya dengan Sabil al-Muhtadin, kemudian prakarsa ini dilanjutkan oleh Syekh Dawud Fatthani dengan Sullamul Mubtadi' yang berbahasa Melayu.
Kemudian tumbuh kajian serupa yang diprakarsai ulama Jawa: Syekh Nawawi al-Bantani dengan Nihayatuz Zain yang berbahasa Arab, dan Syekh Sholeh Darat dengan Majmuah As-Syariah yang berbahasa Jawa, serta Syekh Mukhtar bin Atharid Al-Bughury melalui Kifayat al-Mubtadiin yang berbahasa Sunda, dan seterusnya.
Jika dikembangkan lagi ini sangat menarik, sebab generasi ulama pasca Syekh Nawawi al-Bantani menunjukkan watak solidaritasnya dengan membentuk poros-poros organisasi ahlussunah wal jamaah di era pergerakan. Mereka bergerak bukan lagi pada aspek wacana keilmuan yang menjadikan mereka penyambung lidah ulama salaf, melainkan juga menjadi jembatan masa depan karena mereka banyak yang menjadi perintis kemerdekaan Indonesia.
https://web.facebook.com/penerbit.imtiyaz/posts/1311693185578981
Comments
Post a Comment
Bijaklah dalam berkomentar di bawah ini.