Dinamika sosial agama di Indonesia
seolah tidak pernah kehabisan energi untuk mengeliat. Dan Islam yang semula
menjadi sebuah ajaran dan budaya yang melekat tak luput dari sasaran
kepentingan politik indetitas dengan berbagai motifnya. Dalam perspektif politik,
hal ini setidaknya tergambar dari jumlah partai politik yang mengatasnamakan
perjuangan berasaskan Islam. Hal ini bukan hanya terjadi akhir-akhir ini saja,
perebutan identitas Islam bahkan tetap terjadi hingga hari ini.
Dalam sejarah pemikiran di Indonesia, pergerakan Islam sebenarnya dapat dipetakan secara sederhana melalui ideologi yang menjadi ruh gerakannya: Sunni (Ahlussunnah wal Jama’ah), Syi’ah, Wahabiyyah dan Liberal. Sejarah pula membuktikan bahwa setiap bungkus organisasi masyarakat berlebelkan Islam, tidak lepas dari keempat ideologi tersebut yang beriringan dengan kejadian politik yang berkembang. Namun demikian, tampaknya di antara fenomena yang ada, gerakan Islam 212 merupakan fenomena yang paling memalukan di sepanjang sejarah Islam di Indonesia.
Pesanan Politik
Sesaat
Gerakan Islam 212 berangkat dari
ide gerakan massa komunal, utamanya di kawasan kumuh metropolitan, dengan
memanfaatkan kejadian politik, emosional beragama serta ketersediaan para
pendana. Semacam mimbar bebas, gerakan ini mempersilahkan siapa saja untuk
mengorbit di ranah publik meskipun minim kualitas. Lantang dan tidak punya
persediaan malu adalah syarat utama. Dua hal ini penting, mengingat di sisi
lain terjadi penurunan semangat penegakan hukum di republik ini.
Comments